Sunday, March 27, 2022

Lara

 Tak sewarna

Tak pernah sama

Namun tanpa ragu ku melangkah


Tak sejiwa

Tak pernah sama

Namun tanpa ragu kuminta bersenyawa


Katamu ku tak pernah sama

Tapi bukankah kau yang mengubahku sedemikian rupa

Katamu ku tak pernah mengerti rasa

Tapi bukankah kau yang mengajariku tentang cinta

Thursday, March 3, 2022

Bhagaskara

Tidak untuk mereka
Tapi untukku
Sinarmu adalah agrapana
Hangatmu adalah peluruh duka

Tidak untuk mereka
Tapi untukku
Biasmu adalah adiwarna
Silaumu adalah pelipur mara

Semesta tanpamu hanyalah lara
Adicandra tanpamu hanyalah cerita
Bumi tanpamu hanyalah hampa
Tak akan ada swastamita
Tak akan ada arunika
Dan aku tanpamu hanyalah jiwa yang tak pernah ada

Jingga Senja

 Jika aku adalah senja

Maka kau adalah jingga

Senja hanya dicinta karena jingganya

Semua orang hanya tinggal karena siratnya


Senja terlihat begitu gagah

Senja terpandang begitu indah

Meski menyimpan cemburu didalamnya

Karena semua itu hanya karena jingganya

Adyatma

 Engkau adalah nyawa

Kasihmu isyaratkan surga


Hadirmu membelah separuh gelisahku terhadap kehidupan

Hadirmu membelah sebagian takutku dalam melangkah

Dan hadirmu telah membelah seluruh raguku akan hidup yang tak akan pernah bahagia


Engkau bukan lagi belahan jiwa untukku

Melainkan bagian dari seluruhku


Rindu dan pulangku

Lelah dan semangatku

Lemah dan mampuku

Maka izinkan aku menjagamu

Aksara Luka

 Terlipat rapat

Tertulis lewat sejuta harap

Menyimpan seribu suka

Menyiratkan seratus duka


Setiap garisnya menceritakan kisah

Setiap lekuknya menggambarkan amarah


Teringkas rapi

Tersurat lewat sejuta mimpi

Menyimpan seribu rasa tak bertepi

Menyiratkan seratus tangis tanpa henti

Penantian

 Dibalik lemari tanpa pintu

Sendirian

Menanti sebuah keajaiban

Diantara ratap orang tersayang


Dibalik lemari kayu

Kesepian

Menanti utusan Tuhan

Diantara tangis orang tersayang


Dibalik lemari keabadian

Bertahan

Menanti jemputan surga agra

Diantara sanjungan orang tersayang

Wednesday, March 2, 2022

Renjana Aksa

Renjanaku aksa

Sinarnya tak lagi menerangi kegelapan

Dia bilang ini akan sementara

Tapi tak kunjung ada kepastian darinya


Tempatku berpijak kini  hampa

Tempatku bersandar kini luka

Tempatku beradu kini lara

Tempatku berpulang kini lupa


Renjanaku aksa

Sinarnya tak lagi meneduhkan kenistaan

Dia bilang ini hanya akan secepat kedipan mata

Tapi tak kunjung ada kepastian darinya

Antarlina

 Masa kita berjalan menikmati fajar

Masa kita berlari bermain hujan

Tolong bawa aku kembali padanya


Kau bilang kau akan pergi dalam pelukku

Namun kau tak kunjung kembali menghapus pilu

Kau bilang kau akan pergi dalam hangatnya genggamku

Namun kau tak kunjung kembali melepas rindu


Masa kita berjalan menuju senja

Masa kita berlari menuju indahnya samudera

Tolong bawa aku kembali padanya

Dayita

 Siapa aku

Yang selalu memujamu dibalik rindu

Yang selalu menyebut namamu candu


Siapa aku

Yang melangitkan namamu disetiap doaku

Yang mengagungkan namamu disetiap sujud akhirku


Siapa sebenarnya aku

Yang berhak merindukanmu

Yang pantas melihat eloknya senyummu


Siapa sebenarnya aku

Yang penuh harap akan berjumpa denganmu

Yang penuh harap akan bersimpuh dihadapanmu


Siapa sebenarnya aku

Yang penuh harap salamnya kau terima lewat senyummu

Yang penuh harap dapat bertemu disurga-Nya lewat anugerahmu

Senyap

Kita yang terdiam dalam angan

Kini hanya bertatap lewat ratap


Lewat matamu yg kuharap menatap

Lewat ragamu yang kuharap menetap


Hatimu yang tak lagi sama kini

Jiwamu yang tak lagi merana tanpaku kini


Lewat seberang meja yang kini menjadi tempatku terdiam rapat

Kutunggu kau dengan penuh harap

Pulang

Tidak hatiku

Tidak juga kamu

Kalian bilang tidak ada gunanya bertahan


Tidak ragaku

Tidak juga kamu

Kalian bilang tidak ada gunanya sendirian


Tidak jiwaku

Tidak juga kamu

Kalian bilang tidak ada gunanya kesepian


Lalu bagaimana bisa seorang hamba meminta pada tuannya bertahan

Bagaimana bisa seorang hamba meminta pada tuannya tanpa kesepian

Jawabannya tetap

Pulang

Putri Kecilmu

Ayah, ini aku putri kecilmu

Yang pernah kau angkat saat jatuh

Yang pernah kau peluk saat menangis rapuh

Yang pernah kau iringi langkahnya tanpa keluh


Ayah, ini aku putri kecilmu

Yang kini mulai berani tumbuh

Yang kini mulai mengejar mimpinya dengan sungguh

Yang kini mulai tangguh meski terkadang rapuh


Ayah, ini aku

Aku yang menunggu pulangmu disetiap malam yang indah itu

Aku yang menunggu ajakmu pergi kala malam minggu

Aku yang selalu menunggumu dibalik pintu


Ayah, ini aku

Aku yang ingin menyampaikan rindu untukmu

Rindu akan aroma tubuhmu yang seharum bunga

Rindu akan nafasmu yang semerdu alunan nada

Rindu akan sorot matamu yang seteduh swastamita

Rindu akan tawamu yang secerah arunika


Lewat aksara yang mungkin tak akan pernah bisa kau baca

Lewat sang bayu yang mungkin tak sanggup lagi menyampaikan rasa

Aku, putri kecilmu ini ingin meberitahumu tentang rindu

Rindu yang membuatku rapuh

Tapi juga mampu membuatku kukuh


Dibalik pelupuk berbinar yang tak pernah lagi kau tatap

Dibalik senyum merekah yang mungkin tak pernah lagi sedihnya terucap

Kusampaikan rindu yang telah kusimpan dengan rapat

Dan kuharap saat kita tak lagi aksa nanti kau akan ingat

Ayah, ini masih tetap aku

Putri kecilmu

Abirawa

Jika hadirku bagimu hanya ragu Untuk apa menunggumu jadi candu Jika hadirku bagimu hanya nafsu Untuk apa kasihku jadi rindu Sudah kubuat bai...